Wednesday, November 03, 2004
In Memoriam : Kornelis Nong
Sore itu, Kornelis Nong dan teman-temannya berencana pergi ke sebuah desa di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka ke sana untuk menghadiri pesta pernikahan seorang senior di kampus. Sebenarnya, Nong tidak mengenal kedua calon mempelai. Mereka angkatan 1994 sedangkan dia dari angkatan 2002. Jarak yang cukup jauh. Tapi, kenal atau tidak kenal, bukanlah suatu masalah besar. Baginya, bisa pergi bersama teman-temannya dan naik motor baru adalah kegembiraan tersendiri. Apalagi, jamuan di perhelatan nanti, bisa memanjakan perut-anak-kost-nya untuk sesaat.
Mereka berangkat sekitar jam empat sore dari Jogja. Rombongan ini, terdiri dari dua bagian; rombongan pertama adalah mereka yang akan langsung menuju tempat pesta, termasuk di dalamnya Nong; dan rombongan kedua adalah mereka yang akan transit semalam di Solo.
Nong mengendarai motornya sendirian. Tidak ada pemboceng di belakangnya. Bagaimana bisa memboncengkan orang lain? Naik motor sendiri pun Nong belum begitu mahir. Baru sebulan ini, tepatnya sebelum pulang ke kampung halamannya, Lela, Nong sempat belajar naik motor. Dan baru seminggu ini Nong punya motor baru dan SIM (tembakan).
Memasuki Klaten, teman-teman Nong mulai khawatir melihat caranya mengendarai motor. Dia naik motor dengan kecepatan tinggi. Seorang teman, memintanya untuk menjadi pembonceng saja, tapi Nong menolak. Apa mau dikata, mereka terpaksa memakluminya. Siapa sih yang ngga senang naik motor baru?
Melewati Solo, Nong kian ceroboh. Berkali-kali dia mendahului kendaraan besar di depannya tanpa perhitungan yang matang. Teman-teman yang ada dibelakangnya mulai berfirasat jelek dan akhirnya, firasat itu terbukti ketika sebuah motor menerjang Nong dari arah yang berlawanan. Nong dan motornya terlempar, lalu sebuah truk tentara menghantamnya.
Nong meninggal seketika.
...
Adzan Magrib baru berkumandang. Selesai sholat, kakak pergi ke pompa bensin untuk mengisi bahan bakar motornya. Sepuluh menit kemudian, dia kembali dengan tergesa-gesa, mengambil kunci mobil dan pergi. "Ada kecelakaan," katanya singkat. Saya dan ibu tak begitu memperhatikannya. Apalagi, kami tak mendengar suara beturan. Paling, hanya kecelakaan ringan dan lokasinya jauh dari rumah.
...
Teman-teman Nong berkumpul di rumah kami yang hanya berjarak dua puluh meter dari lokasi kecelakaan. Mereka sibuk mondar mandir mengurus ini dan itu di kepolisian sembari menunggu kabar dari RS. Nong meninggal sedangkan orang yang menabraknya masuk UGD.
...
Kornelis Nong lahir tanggal 4 September 1982. Hari itu, tanggal 3 September 2004, berarti di umur yang tepat 22 tahun, dia pergi menghadap Tuhan.
Semua teman-temannya tidak ada yang berani memberitahu keluarganya. Selain sudah terlalu malam, karena satu jam lagi sudah tanggal 4, juga mereka tidak tahu bagaimana caranya. Nong anak tunggal dan menyampaikan kabar duka -di hari yang seharusnya membahagiakan- ini bukanlah hal yang mudah. Akhirnya, mereka menelepon salah seorang sepupunya yang kebetulan ada di Jogja. Biar saudaranya yang menentukan bagaimana cara memberitahukan keluarganya.
...
Hari ini, tanggal 3 November, berarti sudah 2 bulan peristiwa tersebut berlalu. Saya tidak mengenal Nong. Tapi, saat itu saya di sana dan menyaksikan bagaimana teman-temannya sangat mencintainya.
Selamat jalan Nong, ...
Semoga kamu bahagia di sana
Oh ya, satu hal yang masih saya ingat sampai sekarang, di dompetnya tidak ada foto kekasih, yang ada hanya gambar Jesus dan mini Injil.
1:56 AM |
|